Langsung ke konten utama

Amanda


Amanda, anak perempuan paling muda yang ikut menjadi dampinganku. Usianya belum genap dua tahun. Namun demikian dia selalu ingat saban Minggu, pasti datang mengunjungiku, bersama neneknya.
Meski rambutnya belum juga mau tumbuh, serta ingusnya yang tak juga berhenti meski telah berulangkali diobati, Amanda sudah mengerti ke mana setiap saban Minggu pagi kami berkumpul.
Neneknya pun datang mengantar sambil menyerahkan enam ribuan padaku, pagi itu (15/11/09). Ya, ia menyisihkan uang jajan Amanda untuk menabung di tempatku. Meski serba kekurangan, mereka masih mau memikirkan betapa pendidikan itu perlu. Perlu dipersiapkan karena mahal. Perlu diraih, meski berkeringat sekarang....
Amanda, yang belum genap dua tahun ini, telah ditinggalkan ibunya menjadi TKI ke Hong Kong. Ayahnya, entah ke mana pergi....sepertinya keluarga brokenhome ini, lengkap sudah mewarnai tepian Mergosono, yang sarat dengan penduduk pendatang.
Amanda,.....akhirnya tinggal bersama neneknya.
Waktu datang kemarin, Amanda mau juga dipotong kukunya....setelah mencorat-coret kertas gambar anak-anak yang lain.
Amanda...Amanda....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Sinau: Puzzle ~ Mengenal Nama-nama Hewan di Indonesia

Berikut adalah bahan puzzle, yang kami buat sendiri bagi anak-anak di bantaran kali Brantas, Mergosono, Malang. Puzzle berikut mencari nama-nama hewan yang ada di Indonesia, berdasarkan pengelompokan abjad. NAMA BINATANG Carilah nama-nama binatang berikut pada kumpulan huruf dalam kotak, bisa dengan mendatar, tegak, miring ke kanan, miring ke kiri, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas. ALAP-ALAP                            BABI                                        BELIBIS ANGSA                              ...

MEWARNAI PASIR

Minggu depan kami berencana mewarnai gambar dengan menggunakan pasir laut. Wah, gimana caranya? Penasaran ya? Sabar, pasti jika tiba saatnya kami akan tulis juga di blog ini.  Jadi pekan ini kami belajar menyiapkan bahannya yakni membuat pasir berwarna. Pertama kami menyiapkan semua bahannya: pasir laut, pewarna makanan, gelas plastik, sendok/garpu plastik, dan air secukupnya.     Pasir laut yang sudah dicuci bersih dan dikeringkan Pewarna Makanan Gelas, sendok/garpu plastik bekas Cara membuatnya: Pertama pasir laut harus dibilas dengan air tawar terlebih dahulu untuk menghilangkan bau amis, jemur di tengah terik matahari. Kita bisa jemur beberapa kali (meski pasir sudah kering) agar bau amis bisa benar-benar hilang. Kemudian kita bisa simpan pasir tersebut pada botol plastik (bekas aqua, dsb).   Untuk mewarnai pasir laut, kami menggunakan warna dari pewarna kue cair, dicampur dengan sedikit air, dan anak-anak membantu dengan mengaduk pasirny...

God is Good!

Salam Damai! Senang bisa bertemu kembali...senang bisa menulis kembali, setelah hari-hari panjang istirahat total (mungkin Tuhan kasih istirahat ini, supaya saya benar-benar bedrest, he he he) rasanya jadi kangen sama anak-anak dampingan, setelah hampir dua bulan tidak mengunjungi mereka. Puji Tuhan! Natal lalu, beberapa anak main ke rumah, secara tak terduga, sehingga sedikit menghibur rasa gundah saya...he he he... Akhirnya, Minggu pagi, 10 Januari 2016, setelah badan terasa pulih dan segar, saya kembali mengunjungi anak-anak. Awalnya hanya berniat menemui Pak Nur Hasan, ketua RT setempat, hendak menindak lanjuti proses peminjaman ruang ipal, yang akan dipakai anak-anak belajar bersama. Tapi rupanya, proses belum selesai, karena pertengahan Januari ini baru akan dilakukan pemilihan pengurus baru ipal. Beberapa warga yang mengetahui hal tersebut menyarankan untuk memakai rumah mereka dulu....akhirnya kami menempati rumah Hilda, salah seorang anak dampingan untuk belajar. Mesk...