Langsung ke konten utama

Madre

Madre berasal dari bahasa Spanyol, berarti ~ Ibu ~ Bunda. Semalam saya membaca Madre karya Dee, penulis perempuan Indonesia papan atas tersebut, entah mengapa jika kemudian kata-kata "Madre" terpahat kuat di benak saya.

Tapi saya tidak akan menulis Madre ~ alias biang roti, seperti yang ditulis oleh Dee. Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang Madre ~ ibu ~ bunda ...seseorang yang sangat dirindukan sebagian anak-anak di bantaran Kali Brantas, Mergosono, Malang, Jatim.

Saat saya bertanya, "Di mana Ibumu?"
Sebagian anak lantas berkata, "Sedang bekerja." Beberapa anak menjawab, "Di rumah sedang memasak...mencuci." Beberapa anak lain, dengan sendu menjawab, "Ibu di Hongkong!"

Lain hari saya bertanya, "Bagaimana kabar Ibumu?"
Jawaban yang beragam pun tersedia....
"Ibunya masih di PT (maksudnya PJTKI)bulan depan berangkat ke Hongkong," cerita Luluk, mewakiki keponakannya, yang belum genap berusia setahun.
"Masih bekerja...gak ada libur" ucap Amel.
"Ibu, mau kawin lagi....gak tahu di mana, di Hongkong atau Singapura?" jawab Tutik, dengan wajahnya yang selalu sama, datar.
"Bunda baik...baru saja ngirimi aku paket," renyah suara Amanda berceloteh, sambil memamerkan sepatu dan baju barunya.

Mereka bukan anak-anak kaya, mereka bukan anak-anak yang berkecukupan. Ibu mereka juga bukan perempuan-perempuan kaya, mereka bisa pergi ke Hongkong, Singapura atau Malaysia karena menjadi Tenaga Kerja Indonesia.

Sekitar 12 tahun lebih beberapa bulan saya menemani anak-anak ini, saya belajar memahami arti kerinduan. Kerinduan mereka bukan berarti sesuatu yang mudah...rindu dengan sejuta harapan, rindu dengan sejuta rasa merana. Rindu dekapan seorang bunda. Rindu ciuman dan belaian kasih sayang. Rindu seorang teman di rumah, yang bukan sekadar nenek pengganti dengan seribu larangan.

"Aku gak tahu bagaimana rupa Ibuku. Beberapa kali Ibu kirim foto, tapi yang ada di hatiku beda dengan yang di foto itu..." cerita Tutik suatu saat. Lain hari saat bertemu dia bercerita, "Mbak, Ibu mau kawin lagi. Aku sedih... Impianku itu Bapak dan Ibu bersatu lagi, suatu saat..."
Tutik anak semata wayang, yang tinggal dengan neneknya, merupakan anak korban perceraian orangtuanya. Ayahnya akhirnya menikah lagi dengan perempuan lain, sedang Ibunya pergi ke Hongkong karena kecewa dengan pernikahannya, sekaligus kebutuhan hidup yang kian mendesak mereka. Kabarnya, Ibu Tutik ini sedang menjalin hubungan dengan sesama TKI.

Lain lagi kisah dari Ibu Amanda. Bayi mungil yang sekarang sudah mulai masuk TK. Pernikahan itu seperti dipaksakan (Bagaimana lagi) karena Ibu Amanda telah mengandung, meski usia masih terbilang muda, pernikahan itu harus berjalan juga. Dan bisa diduga...beberapa bulan setelah kelahiran Amanda, pria yang seharusnya dipanggil bapak itu, telah hilang entah ke mana.
Akhirnya Amanda dirawat neneknya, dan ibunya pergi ke Hongkong tanpa sempat dikenali oleh anaknya. Belakangan, hanya paket berisi kue, pakaian, sepatu dan mainan yang terkirim ke rumah mungil mereka. Kabar santer terdengar, Ibu Amanda akan menikah lagi. Entah dengan siapa.

Madre ~ Ibu ~ Bunda....
ada banyak kisah tentangmu. Saya percaya, kalian sangat-sangat luar biasa perkasa, mulia dan tangguh. Entah itu kalian yang menjadi TKI, buruh di sebuah salon kecantikan, buruh rumah tangga, pemijat, pencari barang loakan,ibu rumah tangga, dsb. Kalian semua dirindukan. Kalian semua diharapkan kembali, meski tidak tahu kapan kalian bisa datang.

Madre ~ Ibu ~ Bunda....
saya percaya pilihan yang kalian ambil ini tidak begitu mudah. Hati kalian juga terkoyak saat harus meninggalkan buah hati di rumah. Pilihan kalian ini tidak juga mudah, saat tantangan di luar sana begitu kejamnya. Semua demi masa depan, demi segenggam uang untuk menyalakankan kepul asap di rumah....meski kalian juga kehilangan rasa "bahagia."

Saya sangat tersanjung dan merasa (selalu) terharu, setiap kali anak-anak ini datang pada saya dengan kerinduan yang besar...dengan jabat tangan hangat, pelukan dan ciuman kasih sayang. Sebenarnya itu diperuntukkan bagi kalian... Madre ~ Ibu ~ Bunda...
 



~ Doaku untukmu, Ibuku di surga, terimakasih telah melahirkan dan membesarkanku....love you....sungguh, aku kangen padamu, Madreku...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BELAJAR ADIK KAKAK

Minggu pagi yang cerah, 27 September 2015 Anak-anak terlihat masih baru bangun dari tidur, saat saya sampai di perkampungan mereka. Wajah lusuh alias wajah bantal, belum tersentuh air. Tapi saat mereka mengetahui kehadiran saya, bergegas mereka mandi dan bersiap bergabung dengan saya di halaman sekolah, tempat biasa kami belajar dan bermain bersama. Pagi ini saya membawa alat belajar berupa Ular Tangga dari kertas karton, juga crayon, pensil warna dan kertas-kertas aktivitas untuk dipakai bersama. Pagi ini kami bermain dalam kelompok Adik Kakak, artinya anak yang berusia lebih tua menemani anak yang lebih muda dalam sebuah kelompok, bisa dari saudara kandung, atau teman sekampung. Tugas seorang kakak adalah menemani dan mendampingi adik/teman yang lebih muda dalam belajar melalui permainan bersama. Dengan media  Ular Tangga, kami mulai permainan pagi ini. Eits....tapi beda dengan permainan Ular Tangga pada umumnya lho! Ular Tangga yang kami pakai tentu saja istimewa...he he he....

Bahan Sinau: Puzzle ~ Mengenal Nama-nama Hewan di Indonesia

Berikut adalah bahan puzzle, yang kami buat sendiri bagi anak-anak di bantaran kali Brantas, Mergosono, Malang. Puzzle berikut mencari nama-nama hewan yang ada di Indonesia, berdasarkan pengelompokan abjad. NAMA BINATANG Carilah nama-nama binatang berikut pada kumpulan huruf dalam kotak, bisa dengan mendatar, tegak, miring ke kanan, miring ke kiri, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas. ALAP-ALAP                            BABI                                        BELIBIS ANGSA                              ...

MEWARNAI PASIR

Minggu depan kami berencana mewarnai gambar dengan menggunakan pasir laut. Wah, gimana caranya? Penasaran ya? Sabar, pasti jika tiba saatnya kami akan tulis juga di blog ini.  Jadi pekan ini kami belajar menyiapkan bahannya yakni membuat pasir berwarna. Pertama kami menyiapkan semua bahannya: pasir laut, pewarna makanan, gelas plastik, sendok/garpu plastik, dan air secukupnya.     Pasir laut yang sudah dicuci bersih dan dikeringkan Pewarna Makanan Gelas, sendok/garpu plastik bekas Cara membuatnya: Pertama pasir laut harus dibilas dengan air tawar terlebih dahulu untuk menghilangkan bau amis, jemur di tengah terik matahari. Kita bisa jemur beberapa kali (meski pasir sudah kering) agar bau amis bisa benar-benar hilang. Kemudian kita bisa simpan pasir tersebut pada botol plastik (bekas aqua, dsb).   Untuk mewarnai pasir laut, kami menggunakan warna dari pewarna kue cair, dicampur dengan sedikit air, dan anak-anak membantu dengan mengaduk pasirny...