Langsung ke konten utama

Sebuah Pertemuan

Wah, lama banget tidak berjumpa....
Menulispun jadi semakin jarang karena kesibukan yang menumpuk, he he he...
Baiklah kita mulai kembali kisahnya.

Kemarin, Minggu, 7 Juni 2015, akhirnya saya dapat meluangkan waktu berkunjung ke tempat anak-anak. Ada rindu setelah sekian lama tidak bertemu.
Pagi ini saya melewati daerah TPA, memotret beberapa tempat yang biasa saya kunjungi bersama anak-anak. Ada banyak perubahan, meski bau sampah, kotoran dan asap mengepul dari pengolahan limbah tetap seperti biasanya.

Hilda yang mengetahui kedatangan saya, buru-buru pulang ke rumah, mandi. 
Ah, saya jadi ingat belasan tahun lalu, setiap saya jumpa anak-anak, pasti sebagian besar masih belum mandi, wajah penuh daki dan pakaian kumal. Tapi sekarang mereka mulai pintar dandan dan mengerti kesehatan. Tanpa diminta, setiap kali tahu saya datang maka mereka bergegas mandi dan bertukar dengan pakaian bersih.

Pagi ini kami banyak bercurhat, setelah lama tidak bertemu....meski tidak seberapa banyak yang datang, sekitar 20an anak, namun lengkap dari anak belum sekolah sampai SD dan SMP ada. Saya hanya mengeluarkan kertas bergambar, crayon, pensil warna dan membagikan pada anak-anak. Mewarna memang bukan tujuan utama hari ini. Fokus utama mendengarkan Curhat mereka, he he he 
Jadilah cerita tentang ujian, usaha memilih sekolah, tentang teman, makanan yang sedang mereka makan, dsb. meluncur dari bibir mereka.
"Aku pingin masuk ke SMK 1, kak," ucap Mega.
"Kalau aku ke SMK 2," sahut Novi.
"SMK 2? Di mana itu, Nov?" tanya saya, heran.
"Itu lho, Mbak...di daerah Janti!" jawab Novi lagi.
"Alah....bilang aja SMK PGRI!" sahut Nabila. Terlihat Novi tersenyum malu-malu.
"Lho, kenapa gak nyoba SMK yang negeri dulu?" tanya saya kembali dengan heran.
"Ah,...Mbak, kalau negeri khan nilai danem minimal harus 36," jawab Novi lagi.
"Hemmm...." saya jadi tidak tega menanyakan nilai ujian dia. Tapi akhirnya keluar juga sesuatu dari bibir saya. "Mungkin kalian harus berani mencoba....pilih dulu sekolah negeri baru kemudian, kalau memang sudah tidak lolos, SMK swasta jadi pilihan saya. Selain itu pilihlah jurusan yang sesuai minat kalian, jangan asal meniru apa yang diucapkan orang lain, karena itu juga untuk masa depan kalian," ucap saya pelan.

Selagi saya mengobrol dengan anak-anak, datang Citra bersama anaknya. Rupanya ia ingin anaknya juga bergabung dengan anak-anak yang lain, untuk belajar. Ah, saya jadi mengingat, Citra adalah salah satu anak yang bergabung dengan saya diawal-awal kegiatan pendampingan ini. 15 tahun rasanya cepat sekali berlalu, dan kini dia sudah membawa anaknya ke sini.
Semakin siang, semakin banyak anak-anak bergabung. Banyak cerita dan tawa. Diakhir pertemuan saya membagikan pensil, titipan dari seorang kawan di Jakarta. Juga pasta gigi dan sikat gigi untuk anak-anak....semua adalah pemberian dari kawan-kawan yang rindu juga bersama anak-anak ini. Semoga kebahagiaan anak-anak siang ini menular pada kita semua.

Daerah TPA (Tempat Pembuangan Akhir) persis di atas perkampungan
tempat pemukiman anak-anak dampingan.

 Salah satu lorong di daerah TPA (Tempat Pembuangan Akhir)

 Perkampungan Mergosono 1a, tempat anak-anak tinggal

  Beginilah anak-anak. Belajar bisa sambil tiduran, tidak masalah!

  Citra, salah satu dampingan saya di awal mulainya kegiatan pendampingan ini,
sekarang telah mempunyai seorang anak.

 Ayah Ade, hari ini datang membawa adik Ade untuk bergabung dengan kami.

  Foto bareng dulu ya....

  Salam hormat! Terima kasih buat kakak-kakak yang sudah membantu kami,
juga menyayangi kami dengan tulus.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BELAJAR ADIK KAKAK

Minggu pagi yang cerah, 27 September 2015 Anak-anak terlihat masih baru bangun dari tidur, saat saya sampai di perkampungan mereka. Wajah lusuh alias wajah bantal, belum tersentuh air. Tapi saat mereka mengetahui kehadiran saya, bergegas mereka mandi dan bersiap bergabung dengan saya di halaman sekolah, tempat biasa kami belajar dan bermain bersama. Pagi ini saya membawa alat belajar berupa Ular Tangga dari kertas karton, juga crayon, pensil warna dan kertas-kertas aktivitas untuk dipakai bersama. Pagi ini kami bermain dalam kelompok Adik Kakak, artinya anak yang berusia lebih tua menemani anak yang lebih muda dalam sebuah kelompok, bisa dari saudara kandung, atau teman sekampung. Tugas seorang kakak adalah menemani dan mendampingi adik/teman yang lebih muda dalam belajar melalui permainan bersama. Dengan media  Ular Tangga, kami mulai permainan pagi ini. Eits....tapi beda dengan permainan Ular Tangga pada umumnya lho! Ular Tangga yang kami pakai tentu saja istimewa...he he he....

Bahan Sinau: Puzzle ~ Mengenal Nama-nama Hewan di Indonesia

Berikut adalah bahan puzzle, yang kami buat sendiri bagi anak-anak di bantaran kali Brantas, Mergosono, Malang. Puzzle berikut mencari nama-nama hewan yang ada di Indonesia, berdasarkan pengelompokan abjad. NAMA BINATANG Carilah nama-nama binatang berikut pada kumpulan huruf dalam kotak, bisa dengan mendatar, tegak, miring ke kanan, miring ke kiri, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas. ALAP-ALAP                            BABI                                        BELIBIS ANGSA                              ...

MEWARNAI PASIR

Minggu depan kami berencana mewarnai gambar dengan menggunakan pasir laut. Wah, gimana caranya? Penasaran ya? Sabar, pasti jika tiba saatnya kami akan tulis juga di blog ini.  Jadi pekan ini kami belajar menyiapkan bahannya yakni membuat pasir berwarna. Pertama kami menyiapkan semua bahannya: pasir laut, pewarna makanan, gelas plastik, sendok/garpu plastik, dan air secukupnya.     Pasir laut yang sudah dicuci bersih dan dikeringkan Pewarna Makanan Gelas, sendok/garpu plastik bekas Cara membuatnya: Pertama pasir laut harus dibilas dengan air tawar terlebih dahulu untuk menghilangkan bau amis, jemur di tengah terik matahari. Kita bisa jemur beberapa kali (meski pasir sudah kering) agar bau amis bisa benar-benar hilang. Kemudian kita bisa simpan pasir tersebut pada botol plastik (bekas aqua, dsb).   Untuk mewarnai pasir laut, kami menggunakan warna dari pewarna kue cair, dicampur dengan sedikit air, dan anak-anak membantu dengan mengaduk pasirny...