19 Januari 2016

God is Good!

Salam Damai!
Senang bisa bertemu kembali...senang bisa menulis kembali, setelah hari-hari panjang istirahat total (mungkin Tuhan kasih istirahat ini, supaya saya benar-benar bedrest, he he he) rasanya jadi kangen sama anak-anak dampingan, setelah hampir dua bulan tidak mengunjungi mereka. Puji Tuhan! Natal lalu, beberapa anak main ke rumah, secara tak terduga, sehingga sedikit menghibur rasa gundah saya...he he he...



Akhirnya, Minggu pagi, 10 Januari 2016, setelah badan terasa pulih dan segar, saya kembali mengunjungi anak-anak. Awalnya hanya berniat menemui Pak Nur Hasan, ketua RT setempat, hendak menindak lanjuti proses peminjaman ruang ipal, yang akan dipakai anak-anak belajar bersama. Tapi rupanya, proses belum selesai, karena pertengahan Januari ini baru akan dilakukan pemilihan pengurus baru ipal.
Beberapa warga yang mengetahui hal tersebut menyarankan untuk memakai rumah mereka dulu....akhirnya kami menempati rumah Hilda, salah seorang anak dampingan untuk belajar.
Meski tidak siap membawa peralatan belajar, tapi karena anak-anak sudah berkumpul, akhirnya kami mulai saja dengan peralatan yang ada di tas saya.
Hari ini aktivitas banyak ngobrol, he he he...karena lama tak jumpa, curhat sana sini, dan kami membuat games mewarna berantai.





Seru juga, meski sekadar games mewarna, tapi dengan kreativitas pembelajaran maka anak-anak juga sambil belajar berhitung, kejujuran dan sportivitas. Kok bisa? Ya, bisa dong! he he he...tertarik kan mau lihat kreativitas pembelajarannya? Boleh kok, sekali-kali datang mengunjungi saat pembelajaran berlangsung.

Minggu, 17 Januari 2016
Wah, jadwal minggu ini kacau banget, ada undangan mendadak, padahal kita sudah janjian dengan anak-anak. Akhirnya biar semua tidak kecewa, dibagilah waktu dengan seadil-adilnya....maaf ya, anak-anak, minggu ini jadwal ketemuannya dikurangi sedikit, he he he...
Minggu ini kami belajar Matematika dengan memakai games "Space Web Race" alias melintasi jaring laba-laba. Kalau belajar langsung Matematika, sulit khan? Bahkan ada yang bilang takut, bosen! Nah, biar anak-anak enjoy belajar kita memakai games ini. 
Bahan games diprint pada kertas HVS, anak-anak juga membantu membuatkan pion dan dadu istimewa yang terbuat dari kertas karton. Hampir sama dengan model ular tangga, hanya saja naik atau mundurnya mereka melewati jaring laba-laba ini ditentukan oleh dadu istimewa tadi. Pion yang berbentuk laba-laba lucu itu, cukup menarik hati anak-anak. Tambah lagi, jika mereka melewati jaring yang berwarna khusus, maka mereka harus mengerjakan soal matematika. Eh, bukan hanya sekadar soal matematika lho, mereka juga sambil belajar bahasa Inggris dan mewarna gambar hasil hitungan, he he he...menarik bukan.





Waktu satu jam rasanya kurang untuk memainkan games ini. Tapi karena keterbatasan waktu, akhirnya kita berpisah juga. Sampai bertemu minggu depan ya, dengan kreativitas pembelajaran yang lain!

16 November 2015

Kisah Kami (Part 2)



Berawal pada awal Oktober 2000, saat berkunjung di wilayah Bantaran Kali Brantas, Mergosono, Malang, saya melihat ada banyak anak-anak dari keluarga pemulung dan warga kampung, yang bermain di pinggiran kali. Secara pribadi saya tergerak untuk mengajak mereka untuk belajar bersama. Awalnya hanya pembelajaran untuk mengerjakan PR sekolah, namun kemudian pendampingan anak-anak ini semakin berkembang, seiring kebutuhan anak-anak yang didampingi.
         Saat itu kami menempati halaman rumah Bp. Minadji (warga RT 12 RW 6 Mergosono), di samping sekolah. Namun karena lama kelamaan jumlah anak yang ikut kegiatan pembelajaran semakin bertambah, maka akhirnya kami memakai halaman SDN Mergosono 4 Malang, untuk aktivitas kegiatan kami.
         Adapun kegiatan yang dilakukan dalam kelompok Belajar & Bermain, sebagai berikut:
·      Sikat Gigi Bersama
·      Potong kuku dan cara mencuci tangan yang benar
·      Pembelajaran Budi Pekerti
·      Mendongeng dan membaca
·      Mewarna (dengan crayon, pensil warna, pasir laut)
·      Games Kreatif (Susun Huruf, Puzzle, Mencari kata dalam bahasa Inggris, dsb)
·      Bermain sambil belajar
·      Belajar Adik Kakak
·      Sharyng kelompok
·      Pengenalan pendidikan seksual sejak usia dini
·      Membuat Buletin Anak
·      Pemeriksaan & Pengobatan Gratis untuk anak dan keluarga

SUMBER DANA:
Kegiatan pendampingan ini bersumber dari dana pribadi dan juga donatur dari para sahabat yang peduli pada kegiatan pendampingan untuk mencerdaskan anak bangsa.

PESERTA PENDAMPINGAN:
Anak-anak warga kampung, anak-anak pemulung di wilayah RT 5 & RT 12 RW 6 Mergosono, Malang. Juga warga pendatang atau dari daerah sekitar yang tertarik ikut, tidak menutup kemungkinan.
Jumlah kehadiran anak-anak setiap Minggunya dikisaran 15 – 25 orang.

Data per Juli 2015:
Usia belum sekolah         4   anak
PAUD/TK                       5   anak
SD                                18 anak
SMP/SMA                       11  anak +
                Jumlah          38 anak

Jumlah dampingan ini setiap tahunnya berubah, tergantung perkembangan anak di wilayah daerah dampingan. Serta semakin dewasa usia anak, maka mereka semakin mandiri, dan sudah tidak merasa perlu ikut dalam kegiatan rutin pendampingan.

TEMPAT KEGIATAN PEMBELAJARAN:
Tempat kegiatan berdasarkan aktivitas pembelajaran yang kami lakukan:
Pengamatan lingkungan               : di Bantaran Kali Brantas Mergosono, Malang
Pengamatan lingkungan               : di TPA Mergosono, Malang
Pembelajaran kelompok              : di rumah anak-anak (bergantian, sesuai kebutuhan)
Belajar dan Bermain                    : di halaman SDN Mergosono IV Malang
Kegiatan Rekreatif                      : Gadang IV A no 9 Malang atau tempat lain yang memungkinkan terjangkau.

Berikut beberapa kegiatan yang terangkum dalam foto:
 

 Kegiatan pembelajaran pertama kali dilaksanakan, bertempat di halaman rumah Bp. Minadji, Oktober 2000





 Kegiatan pemeriksaan dan pengobatan gratis untuk anak dan warga sekitar, 
bersama dokter dan petugas kesehatan antar umat di wilayah Malang.



 Kegiatan pembelajaran dan pengamatan sungai di Bantaran Kali Brantas, 
Mergosono, Malang.




 Kegiatan gosok gigi dan cuci tangan bersih yang benar. 
Biasanya dilakukan setiap tiga bulan sekali, sebelum memulai kegiatan belajar.  
Kegiatan ini juga dilakukan apabila ada ketersediaan dana.





 Mendapat kunjungan dari teman-teman Jerman dan Congo, yang ingin melihat kegiatan pembelajaran ini. Kisah pembelajaran ini akhirnya masuk dalam buku “Open To Go” yang diterbitkan pertama kali di Jerman dan dibaca oleh banyak orang di belahan bumi dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.





Belajar Kreatif:dengan aneka macam permainan anak-anak. Apa yang didapatkan dari permainan tersebut untuk pembelajaran bersama.


 Belajar Kreatif: Green Flag & Red Flag. Pengenalan pendidikan seksual sejak dini, dengan menggunakan Green Flag & Red Flag. Anak-anak diajari untuk mengenal tubuh mereka, menjaganya agar tidak dilecehkan oleh orang lain. Serta bagaimana cara anak menghadapi (meng-STOP) orang asing yang mungkin berbuat tidak baik/membahayakan mereka.



 Belajar Kreatif: sambil berkunjung ke Museum Zoologi, Tidar, Malang, untuk mengenal aneka bentuk binatang dan pengklasifikasiannya. Kegiatan ini juga dibantu teman-teman dari Universitas Machung, Malang.






Kegiatan sharyng dengan kelompok remaja, tempat bergantian di rumah mereka. Materi pembelajaran: pendidikan seks usia remaja, 
HIV/AIDS, cita-citaku, belajar memasak bersama, dll.
Kini sebagian dari mereka bahkan sudah menikah, mempunyai anak, dan anak-anak mereka juga mulai bergabung bersama kami...






Kisah Kami (Part 1)

1 Nov. 2015
"Saya gak mau dengar alasan.....meski kegiatan itu sudah belasan atau puluhan tahun lalu! Saya kasih waktu 1 bulan untuk urus izin pakai tempat ke saya!" ucap ibu yang berusia sekitar 50 tahunan lebih itu tegas, sambil berlalu dari hadapan kami. Anak-anak sampai melongo memerhatikannya.

Pagi itu (1/11), kami melakukan kegiatan pembelajaran dan bermain seperti biasa bersama anak-anak dampingan di Bantaran Kali Brantas, Mergosono, Malang. Mengambil tempat di halaman SDN Mergosono 4, karena terdapat tanah lapang, sehingga anak-anak bebas bermain. Hampir 15 tahun ini, kami memakai tanah lapang itu, semua orang di kampung juga tahu, jika kami sering memakai tanah lapang itu untuk belajar dan bermain bersama.

Pagi itu kami merencanakan mengadakan "Games Kreativitas" untuk merayakan secara sederhana 15 tahun kegiatan pendampingan bersama anak-anak di Mergosono. Anak-anak setuju dan bersemangat untuk mengadakan kegiatan tersebut. Ada games "Mr. Frog" yang mengajar anak-anak untuk teliti dan cermat, juga berlatih daya ingat. Ada games menghitung, mewarna dengan pasir juga puzzle dalam bahasa Inggris.

Tengah kami asyik melakukan kegiatan tersebut datang seorang ibu menghampiri kami, dari arah kantor SDN Mergosono 4. Saya pikir dia adalah salah seorang guru, jadi kami menyambutnya dengan ramah, karena selama ini setiap guru yang kebetulan datang ke sekolah pada hari Minggu dan melihat kami, hanya melihat sepintas sambil tersenyum ramah menyapa anak-anak. Tapi....
Sepertinya guru yang ini beda, pikir saya dalam hati.
"Maaf, ya, ini lagi belajar apa?" tanya Ibu guru tersebut, sambil menatap anak-anak dengan tajam. Anak-anak menghentikan kegiatan mereka sambil melihat ke arah guru tersebut dengan takut. (Takut? kok aneh, ya...pikir saya makin heran)
Lantas kemudian ia bertanya banyak hal pada saya tentang kegiatan kami, apa yang kami pelajari, berapa jumlah anaknya, siapa saja mereka...bla...bla....mendadak saya seperti diinterograsi dengan nadanya yang tajam dan keras. 
"Sudah ada izin belum pakai tempat di sini?" tanya Ibu guru tersebut lagi, dengan tatapan mata tajam dan menusuk pada saya. Saya tercenung, dulu sekali saya pernah berpikir untuk mengurus izin pada pihak sekolah, sekadar sapaan resmi pada pihak sekolah karena halaman mereka kami pakai....hingga empat atau tiga kali pergantian kepala sekolah SD ini berganti, belum terlaksana karena memang selama ini tidak ada kendala. 
"Meski hanya pakai halaman sekolah ini tiap minggunya ya, Bu?" tanya saya berlagak bodoh.
"Ya, harus! Saya bikin bangku di sekolah ini, perbaiki halaman sekolah...semua juga pakai aturan," ucapnya lagi sambil menunjuk bangku marmer di halaman kelas di sekolah itu. Kali ini nadanya makin keras.

"Saya gak mau dengar alasan.....meski kegiatan itu sudah belasan atau puluhan tahun lalu! Saya kasih waktu 1 bulan untuk urus izin pakai tempat ke saya!" ucap ibu yang berusia sekitar 50 tahunan itu lebih tegas, sambil berlalu dari hadapan kami. Anak-anak sampai melongo memerhatikannya.
Ah,...saya yang selama pembicaraan tadi berusaha sabar dan menahan diri, tiba-tiba juga menjadi marah dalam hati. Mengapa kalau marah di depan anak-anak? Mengapa gak bicara secara dewasa, ngobrol empat mata dengan teduh? Dan lagi sepertinya ibu itu kurang begitu mengenal anak-anak, yang sebagian besar adalah anak didiknya....

"Siapa nama Ibu Guru itu?" tanya saya, setelah tenang pada anak-anak. Kemudian baru saya tahu kalau dia, Ibu "S" (sebut saja demikian) ini adalah kepala sekolah baru di SDN Mergosono 4 Malang ini.
"Aku pernah dijewer sama ibu itu mbak," Bagas bercerita dengan wajah sedihnya. Kemudian beragam cerita dari anak-anak tentang Ibu "S", yang rupanya kurang disukai anak-anak. Aroma ketakutan dan ketidaksukaan anak-anak jelas kentara.
Akhirnya kami menghentikan kegiatan...untunglah semua anak sudah menyelesaikan games nya. Saya bagikan kue dan Kalender bersama kami, yang memuat foto anak-anak (Lihat Kalenderku 2016, ada dalam blog edisi sebelumnya).

Sebelum kami berpisah kemudian saya berkata pada anak-anak, "Ok, kalian semua tadi sudah tahu, kalau Mbak Ayik dimarahi Ibu Kepala Sekolah. Mbak Ayik akan coba urus izin agar kita bisa pakai halaman sekolah ini. Tapi kalau gak dapat izin bagaimana?" tanya saya memancing anak-anak.
"Belajar di rumahku aja Mbak. Atau gantian di rumah anak-anak..." ucap Nabila, yang sekarang duduk di kelas 2 SMP.
"Iya, Mbak!" anak-anak yang lain mengiyakan.
"Baiklah...sekarang bantu bersih-bersih dulu ya..." ucap saya kembali. Anak-anak kemudian membantu membersihkan halaman sekolah yang telah kami pakai dan kemudian berhamburan pulang.

8 Nov. 2015
Saya telah membuatkan surat untuk permohonan izin ke sekolah, tapi belum sempat menemui Ibu "S" karena kesibukan saya dengan deadline pekerjaan. Kegiatan belajar dan bermain bersama anak-anak sementara libur.

14 Nov. 2015
Sabtu pagi, kebetulan libur kerja. Hari ini saya berniat untuk menemui Ibu "S" di sekolah. Ngos-ngosan karena jalan yang menanjak dan menurun, akhirnya saya sampai di perkampungan warga. Di halaman sekolah saya dengar Ibu "S" tengah memberi pengarahan pada anak-anak, rupanya usai senam pagi. Melewati rumah warga, Pak Boy menyapa saya dan mengajaknya mampir ke rumahnya, menemui istrinya. Saya memang biasa mampir ke rumah ini, sesekali mengincipi dagangan tradisional mereka. Ibu Ermi menyapa saya dengan ramah, rupanya ia tengah memasak dan segera menghentikan pekerjaannya ketika tahu saya datang.
"Mau ke mana Mbak, kok pagi-pagi ke sini?" tanya Bu Ermi sambil mengajak saya duduk di halaman depan rumahnya.
"Mau ke sekolah...tapi kayaknya masih ada acara ya di sekolah?" ucap saya.
"Habis senam," terang Bu Ermi. "Saya ini sudah seminggu ini gatal-gatal, kemerahan gini di kulit saya," cerita Bu Ermi sambil menunjukkan kulit badannya.
"Alergi ya?" tanya saya.
"Nggak tahu, habis makan bumbu pecel. Mungkin kacangnya nggak digoreng...jadinya bikin gatal kulit saya. Papanya sampai marah-marah," cerita Bu Ermi.
Akhirnya kami ngobrol ngalor ngidul, sambil menunggu acara senam di sekolah bubar.
"Wis, Mbak....sinaunya di ipal (semacam ruang serba guna; aula milik warga) ini saja..." tiba-tiba Bu Ermi berkata demikian. Saya sedikit terkejut, kok tahu permasalahan saya, padahal saya belum cerita.
"Lho, kok tahu kalau saya lagi ada masalah Bu?" tanya saya.
"Walah...ya, anak-anak pada cerita kalau Mbak Arik habis dimarahi kepala sekolah baru itu. Oalah Mbak, semua orang sudah pada tahu, kalau memang kepala sekolah yang sekarang ini agak sulit. Bahkan kemarin kita sudah ngajak ngobrol guru-gurunya anak-anak. Mereka juga sudah tahu dan menyayangkan apa yang dilakukan ibu kepala sekolah itu," cerita Bu Ermi.
Terus terang saya terkejut, seminggu tidak bertemu anak-anak, ternyata sudah ada banyak cerita.
"Terus terang, ya, Mbak...saya ini sangat senang Mbak Ayik ngajari anak-anak. 5 anak-anak saya itu, yang ngajari ya, Mbak Ayik, jadi gak perlu masuk TK, masuk SD sudah bisa membaca,mewarna, menggambar. Hampir semua warga di sini juga merasakan begitu. Wis, kalau memang di sekolah dilarang, ya sudah pakai ipal itu saja..." kata Bu Ermi lagi.

Mendadak datang Pak Dar, penjaga sekolah, ikut nimbrung bersama kami.
"Maaf, ya, Pak Dar, kalau gara-gara saya, jadi dimarahi kepala sekolahnya," ucap saya pelan.
"Oalah Mbak,...memang kepala sekolah yang sekarang ini banyak aturan, masak belajar gitu saja dilarang. Wis, pakai ruang ipal ini saja...pasti semua warga setuju," ucap Pak Dar.
Saya sedikit merasa senang, ada dukungan dari warga tentang kegiatan pendampingan saya selama ini.Tapi saya tidak ingin gegabah....
"Pak Boy, bisa antar saya ke Pak RT 05, biar saya bisa izin dulu pakai ruang ipal ini?" pinta saya dengan sopan.
"Mari!" ucap Pak Boy mengantarkan saya menemui Pak RT 05. 
Ternyata ketua RT 05 ini adalah Pak Nur Hasan, yang mana anak-anaknya dulu juga ikut kegiatan pendampingan bersama kami. 
"Vinda sekarang jarang ikut Mbak, udah gedhe...malu katanya," terang istri Pak Nur Hasan.
"Kenapa malu Mbak? Ada kok anak-anak SMP yang masih gabung, gak hanya anak-anak belum sekolah, TK atau yang kecil," terang saya. Pak NUr Hasan muncul, kemudian istrinya bergabung dengan ibu-ibu lain di depan pintu, ha ha ha...rupanya pagi-pagi sudah mencari uban. Indahnya hidup ini.

Saya jelaskan maksud kedatangan saya pada Pak Nur Hasan.
"Baiklah, Mbak, nanti saya bicarakan dulu dengan warga saya gimana baiknya. Juga saya mesti rembugan dengan RT lain, juga Pak RW, gimana baiknya pemakaian ipal tersebut. Nanti saya kabari mbak secepatnya. Orang-orang yang gak setuju dengan kegiatan ini khan, orang-orang yang gak pernah punya anak kecil...gimana kesulitan kami..." terang Pak Nur Hasan. "Ya, nanti setidaknya saya akan tanyai setiap warga, kalau perlu mengumpulkan tanda tangan mereka, sehingga kalau kita ajukan ini, ini loh ada buktinya kalau kami memang perlu kegiatan ini...." terang Pak Nur Hasan panjang lebar.

Ah, saya sungguh bersyukur....15 tahun pendampingan bersama anak-anak ini ternyata juga dirasakan warga sekitar. Warga juga mau bergerak membantu kami di tengah-tengah masalah yang kami hadapi ini.
Dulu saya pernah dicap 'kristenisasi' oleh orang yang benci saya, dan itu akhirnya bisa ditepis oleh waktu.
Saya percaya....pasti juga ada jalan keluar dari masalah ini, meski harus bersabar dan terus berdoa.